Politik Pragmatis & Keputusasaan Publik

Abdullah A Afifi

Abdullah A Afifi

IDRiS Institute - Business & Public Policy Analyst | DBA Student GSB UKM Malaysia

Saya menyalahkan elit-elit politik dalam ketidaktenangan yang terjadi sekarang, langkah-langkah pragmatis mereka yang saat ini menghasilkan perkara yang sangat sensitif.

Ketika menjelang pengukuhan calon untuk Pilkada sebetulnya saya sudah memprediksi akan adanya blunder. Walaupun dalam kacamata politik hal ini biasa, dalam ruang lingkup publik ada perkara luar biasa, yakni ketidak berdayaan terhadap langkah-langkah politik para politikus dan partai, seolah-olah optimisme yang dibangun sebelumnya hanya dihadapkan pada jalan buntu.

Saya fikir kandidat-kandidat petarung Ahok sangat mendapatkan keuntungan dari hal ini, dapat dilihat diamnya dan tidak ikut dalam arus perdebatan antara publik dan Ahok, sedikit opurtunis menunggu popularitas Ahok jatuh.

Disisi lain, para ulama dan cendekiawan seolah diadu domba oleh dagelan yang dipertunjukkan media yang juga mencoba mengambil atensi publik terhadap situasi ini. Ramai publik memberikan opini yang bukan saja tidak fokus kepada permasalahan tetapi semakin melebar memasuki area sensitif yang berhujung pada hujat menghujat.

Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang buruk atau mungkin keburukan yang coba disampaikan dengan cara yang santun.

Saya pribadi menyayangkan asa yang dipupuk oleh Yusril yang menantang Ahok secara frontal, membuat optimis publik naik, simpul-simpul masyarakat seolah terajut untuk mewujudkan hal yang serupa, isu-isu SARA dipatahkan juga oleh Yusril yang menyerang Ahok, persaingan yang patut diperhitungkan, memperdebatkan wacana bukan hanya sekedar menggiring publik memilih pilihan terbatas yang hanya mengandalkan rasa-rasanya lebih baik.

Kembali kepada perkara apa yang disampaikan oleh Ahok sebenarnya seperti yang disampaikan oleh ulama dan cendekiawan, dalam konteks tertentu bisa menghasilkan perbedaan tafsir pemaknaan. Dalam sikap saya memilih pemimpin yang muslim walaupun dalam pendapat saya bisa menerima perbedaan pemaknaan dalam konteks yang berbeda.

Sebetulnya ini hanya adalah perkara kapan dan siapa yang menyampaikan. Dan dalam hal ini Ahok telah membuat perkataan dan pendapatnya diperkarai oleh publik.

Publik yang bertindak seperti ini, mengirimkan satu tanda bahwa ada keputusasaan terjadi terhadap langkah politik publik yang dihadapkan jalan buntu oleh partai dan elit politik.

Saya perkirakan akan terus berlanjut aksi-aksi ini dengan dua prediksi, pertama Ahok memenangkan kembali dengan strateginya, dan memanfaatkan keriuhan yang terjadi. Yang keduan Ahok dikalahkan oleh salah satu pertarung, baik Anis-Sandiaga ataupun Agus-Slyvia dengan antiklimaks dari respon publik, artinya publik sudah tidak peduli dan naiknya jumlah golput.

Langkah-langkah pragmatis para elit politik ini perlu dikurangi, setiap periode selalu berulang, dan menciptakan keputusasaan di ranah publik.

Elit-elit politik dalam hal ini tak lebih mengibaratkan publik seperti hewan ternak yang digiring untuk memilih pilihan yang mereka sediakan, yang kemudian jika terjadi satu keputusasaan di ranah publik, seperti yang terjadi saat ini, isu-isu SARA, sensitif, tidak substansial dilontarkan, elit-elit ini hanya menunggu siapa yang tumbang untuk mengarahkan jagoannya.

Siapa yang kira, pragmatisme ini hanya mengantarkan kita berjalan ditempat yang sama, sedikit lebih baik dari tersesat dalam labirin yang tak berhujung.